Musim Kemarau 2026, Warga Lebak Antre dan Berebut Bantuan Air Bersih

LEBAK – Dampak musim kemarau 2026 mulai dirasakan warga di Kabupaten Lebak, Banten. Puluhan warga Desa Cibuah, Kecamatan Warunggunung, terpaksa mengantre bahkan berebut bantuan air bersih setelah sumur-sumur milik mereka mengering akibat kemarau yang telah berlangsung lebih dari satu bulan.
Krisis air bersih tersebut mendorong Taruna Siaga Bencana (Tagana) Kabupaten Lebak menyalurkan 5.000 liter air bersih ke dua titik yang mengalami kekeringan paling parah pada Sabtu (18/7/2026).
Pantauan di lokasi menunjukkan warga telah berkumpul sejak truk tangki tiba. Mereka membawa berbagai wadah, mulai dari jeriken, ember, galon hingga drum, untuk mendapatkan pasokan air yang akan digunakan memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Dalam waktu kurang dari satu jam, seluruh air bersih yang didistribusikan habis disalurkan kepada masyarakat.
Sumur Warga Mengering, Air Sulit Didapat
Kemarau panjang menyebabkan sebagian besar sumur gali maupun sumur bor milik warga tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Kondisi tersebut membuat masyarakat kesulitan memperoleh air untuk mandi, mencuci, memasak hingga kebutuhan air minum. Tidak sedikit warga yang terpaksa membeli air atau mencari sumber mata air alami di kawasan hutan.
Salah seorang warga, Mutmainah (52), mengaku keluarganya kini hanya mengandalkan bantuan air bersih karena sumur di rumahnya hampir tidak lagi mengeluarkan air.
“Sumurnya sudah kering. Paling dapat satu ember saja. Di sini mayoritas warga ada yang punya blumbang untuk menampung air buat nyuci. Susah,” katanya.
Ia mengaku bersyukur atas bantuan yang diberikan karena sangat membantu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat di tengah krisis air bersih.
“Alhamdulillah dengan bantuan air bersih ini kami dan masyarakat di sini sangat terbantu,” ujarnya.
Kekeringan Terjadi Lebih dari Sebulan
Warga lainnya, Ida (48), mengatakan kekeringan yang melanda Desa Cibuah bukan kali pertama terjadi. Menurutnya, setiap musim kemarau wilayah tersebut hampir selalu mengalami kesulitan air bersih.
“Air sumur tinggal sedikit, bahkan banyak yang sudah kering. Hampir setiap tahun seperti ini dan biasanya kami mendapat bantuan air bersih dari Tagana. Kami bersyukur karena bantuan ini sangat membantu kebutuhan warga,” katanya.
Tagana Fokus Salurkan Air ke Wilayah Terdampak
Ketua Tagana Kabupaten Lebak, Iwan Hermawansyah, mengatakan distribusi air bersih diprioritaskan ke daerah yang mengalami dampak kekeringan paling berat.
Menurutnya, Desa Cibuah menjadi salah satu wilayah yang hampir setiap tahun mengalami krisis air bersih ketika musim kemarau tiba.
“Hari ini kami menyalurkan bantuan ke dua titik yang sudah lebih dari sebulan mengalami kekeringan. Desa Cibuah memang menjadi salah satu wilayah yang setiap tahun terdampak ketika musim kemarau datang,” ujarnya.
Iwan yang akrab disapa Iwan Kezo menjelaskan, persoalan kekeringan tidak hanya terjadi di Kecamatan Warunggunung. Sedikitnya 12 kecamatan di Kabupaten Lebak tercatat menjadi daerah rawan krisis air bersih setiap musim kemarau.
Karena itu, pihaknya akan terus melakukan distribusi air bersih selama kebutuhan masyarakat masih tinggi dan musim kemarau belum berakhir.
“Di Kabupaten Lebak ada sekitar 12 kecamatan yang biasa terdampak kekeringan, termasuk Kecamatan Warunggunung. Kami akan semaksimal mungkin terus menyalurkan bantuan air bersih kepada masyarakat selama musim kemarau masih berlangsung,” pungkasnya.



